Breaking News

Mahasiswa KKN-PPM UGM Tanai Tanadoang Sosialisasikan Program Hilirisasi Kelapa di Selayar


SATULAYAR.COM
- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tanai Tanadoang 2026 menggelar Sosialisasi Hilirisasi dan Pemanfaatan Limbah Kelapa, bertempat di Puncak Tanadoang, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, pada Sabtu (4/7/2026).

Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Menanam Lima Juta Pohon Kelapa (GEMERLAP) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. 

Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sekaligus mendorong pemanfaatan limbah agar memiliki nilai ekonomi. Kegiatan itu juga menjadi forum diskusi antara pemerintah daerah, masyarakat serta mahasiswa UGM mengenai pengembangan potensi kelapa melalui pendekatan hilirisasi, inovasi, dan ekonomi sirkular. 

Seperti diketahui, potensi kelapa yang melimpah menjadikan Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai salah satu daerah dengan peluang besar dalam pengembangan industri berbasis komoditas lokal. Namun, hingga kini sebagian besar hasil kelapa masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat belum optimal. 

Dalam kegiatan itu, Mahasiswa UGM menghadirkan tiga program unggulan Tim KKN Tanai Tanadoang, yaitu Kelapa Nusa (Briket Arang Batok Kelapa), Cocopeat, dan Bioreeftek. 

Ketiga program yang dirancang melalui kolaborasi lintas disiplin tersebut ditawarkan untuk menjadi solusi yang saling melengkapi dalam memaksimalkan pemanfaatan potensi kelapa, mulai dari pengolahan hasil, pemanfaatan limbah, hingga inovasi berbasis keberlanjutan lingkungan.

Program Kelapa Nusa menjadi salah satu fokus utama melalui pelatihan hilirisasi produk kelapa dengan inovasi pembuatan biobriket dari tempurung kelapa. Tempurung yang selama ini sering kali hanya menjadi limbah diperkenalkan sebagai bahan baku energi alternatif yang memiliki nilai jual dan berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat. 

Selain memberikan nilai tambah pada komoditas kelapa, biobriket juga menjadi solusi ramah lingkungan karena mampu mengurangi limbah organik sekaligus menjadi alternatif pengganti bahan bakar konvensional.

Penanggung jawab Program Kelapa Nusa, Muhammad Daffa Fadhli, menjelaskan bahwa inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu alternatif pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berangkat dari potensi lokal.

"Melalui program Kelapa Nusa, kami ingin menunjukkan bahwa tempurung kelapa yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila diolah menjadi biobriket. Harapannya, program ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat melalui produk olahan hasil kelapa yang memiliki nilai jual lebih tinggi, sekaligus mendukung keberlanjutan program Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Gerakan Menanam Lima Juta Pohon Kelapa atau GEMERLAP," ujar Daffa.


Selain Kelapa Nusa, Tim KKN juga memperkenalkan program Cocopeat, yaitu inovasi pemanfaatan sabut kelapa sebagai media tanam yang ramah lingkungan dan memiliki prospek ekonomi di sektor pertanian maupun hortikultura. 

Sementara itu, melalui program Bioreeftek, mahasiswa memperkenalkan konsep rekayasa lingkungan berbasis material alami sebagai bentuk edukasi konservasi ekosistem pesisir.

Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya inovasi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir melalui pendekatan teknologi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat lokal.

Inovasi yang ditawarkan mahasiswa UGM ini pun mendapat apresiasi dari Camat Benteng, Andi Mastatar, S.Pd.I., yang turut hadir dalam kegiatan sosialisasi bersama Lurah Benteng Utara. Menurutnya, hilirisasi merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sekaligus memperkuat daya saing komoditas lokal.

"Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan hasil dan limbah kelapa sehingga mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal. Inovasi seperti ini juga membuka peluang lahirnya usaha-usaha baru yang dapat berkembang bersama program GEMERLAP di Kabupaten Kepulauan Selayar," ujar Andi Mastatar.

Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung, dimana pada sesi diskusi dan tanya jawab para peserta begitu aktif menggali lebih jauh mengenai proses pembuatan biobriket, pemanfaatan sabut kelapa sebagai media tanam, hingga peluang pengembangan usaha berbasis hasil dan limbah kelapa. 

Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa inovasi berbasis potensi lokal menjadi isu yang relevan dan dibutuhkan sebagai salah satu strategi penguatan ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Tim KKN-PPM UGM Tanai Tanadoang berharap hilirisasi kelapa tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi. 

Dengan demikian, potensi kelapa yang selama ini menjadi komoditas utama Kabupaten Kepulauan Selayar dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, menciptakan peluang usaha baru, serta memperkuat pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan sejalan dengan semangat Optimalisasi Potensi Daerah Menuju Coastal Resilience Area yang diusung KKN-PPM UGM Tanai Tanadoang 2026. (Tim). 


© Copyright 2025 - SATULAYAR.COM | JELAJAH BERITA TERKINI