SATULAYAR.COM - Sebanyak 11 siswa SMP asal Desa Tambuna, Kecamatan Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan nyaris meregang nyawa usai perahu jenis jolloro yang ditumpanginya tenggelam dihantam gelombang di perairan laut Desa Pasittallu Timur, pada Minggu (1/2/2026) sore.
Para siswa ini diketahui sementara menuntut ilmu di Sekolah Menengah Pertama yang berlokasi di Desa Pasitallu Timur, karena di Desa Tambuna sendiri belum memiliki SMP aktif karena gedung sekolah yang di bangun oleh Pemerintah masih dalam tahap pembangunan.
Tokoh Pemuda Desa Tambuna, Anwar, yang juga merupakan saksi mata saat dikonfirmasi kepada satulayar.com mengatakan bahwa ke- 11 siswa tersebut memilih menyebarang pulau lebih awal agar Senin besok mereka tidak terlambat masuk sekolah.
Namun, naas terjadi, perahu pengantar para pelajar dari Desa Tambuna yang akan menuntut ilmu di Desa Pasittallu Timur itu tiba-tiba dihantam gelombang ditengah laut antara dua pulau tersebut. Perahu pengantar pun hancur, lalu tenggelam.
“Setiap hari anak-anak disini (Desa Tambuna) memang menyeberang ke desa tetangga untuk menuntut ilmu. Selama ini para siswa diantar pada saat pagi hari. Tapi hari ini mereka sepakat berangkat sore, dikhawatirkan jika berangkat besok pagi mereka akan terlambat, belum lagi kondisi cuaca yang tidak bersahabat," kata Anwar.
Lanjut, Anwar mengungkapkan bahwa kejadian ini baru pertama kali terjadi disana. Perahu pengantar siswa SMP tenggelam karena kondisi cuaca yang tidak menentu, angin kencang disertai gelombang tinggi sering terjadi secara tiba-tiba.
"Baru kali ini mereka tertimpa musibah, perahu pengantar siswa tenggelam,” lanjutnya.
Anwar melaporkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Seluruh siswa dan 1 orang nelayan pemilik perahu berhasil selamat. Semuanya berhasil dievakuasi oleh sejumlah nelayan yang sedang memancing di sekitar lokasi kejadian.
Bahkan, nelayan atas nama Taking dari Desa Tambuna turut mengerahkan sekitar lima jolloro untuk menarik perahu yang tenggelam ke permukaan.
Kendati tidak menelan korban jiwa, Anwar menyebut kejadian ini menyebabkan para siswa kehilangan pakain seragam, sepatu, sendal, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya karena hanyut terbawa ombak dan arus gelombang. Adapun yang berhasil diselamatkan, seperti buku namun sudah basah, kering pun sudah tidak layak digunakan lagi.
Menurut Anwar, insiden yang terjadi meninggalkan trauma bagi para orang tua siswa. Ada yang mengaku, untuk sementara waktu tidak membiarkan dulu anaknya ke sekolah.
"Para orang tua berharap agar Pemerintah segera memfungsikan gedung SMP di Desa Tambuna, agar anak-anak Tambuna tidak perlu lagi menyeberangi pulau menuntut ilmu," pungkasnya. (Tim).

Social Header