SATULAYAR.COM - Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) memperketat pengawasan harga pangan melalui Tim Satgas Sapu Bersih (Saber) yang dipimpin Diskrimsus Polda Sulsel.
Tim Satgas Saber Pelanggan Harga, Mutu dan Keamanan Pangan ini juga melibatkan seluruh Kapolres serta OPD terkait pangan, termasuk Dinas Perhubungan dan pemerintah daerah.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Muhammad Ilyas, menjelaskan operasi pengecekan harga dijalankan secara rutin menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Hal ini bertujuan menjaga stabilitas harga pangan di tengah permintaan yang meningkat.
"Kita mau pastikan bahwa di harga awal itu sampai ke harga di pasar itu berapa perbedaannya. Contoh kemarin minyak goreng. Nah minyak goreng kan di atas HET ya, tidak boleh kan di atas harga eceran tertinggi yang diambil oleh pemerintah," kata Ilyas di Makassar, Minggu (15/2/2026).
Ilyas mengungkapkan bahwa pengawasan harga pangan itu dijalankan secara terstruktur. Pemantauan dimulai dari distributor awal (D1) hingga distributor berikutnya (D2, D3) dan sampai ke pasar.
"Teman-teman sudah mulai dari kemarin. Seluruh dinas, polres juga akan terlibat untuk rutin melakukan pengontrolan harga supaya tidak ada yang menimbun dan menaikkan harga dari standar biasanya," ungkapnya.
Lanjut, Ilyas menjelaskan jika Satgas Saber bertugas memantau pelanggaran harga, mutu, dan potensi kejahatan pangan. Pengawasan ini berlaku tidak hanya di Sulsel, tetapi juga secara nasional.
"Jadi Satgas Sapu Bersih itu untuk memantau pelanggaran terhadap harga pangan, terhadap mutu, dan termasuk kejahatan pangan," ujarnya.
Adapun sejumlah komoditi utama menjadi fokus pengawasan. Minyak goreng menjadi sorotan karena ada kenaikan harga sebelumnya, sedangkan beras relatif stabil berkat pengawasan ketat.
"Kalau beras, tidak ada lagi yang berani (naikkan harga). Kita imbau semua distributor-distributor, baik distributor satu maupun distributor ke bawah, kita tidak main-main," kata Ilyas.
Harga cabai yang bersifat fluktuatif juga dipantau secara intensif. Menurut Ilyas, pengawasan harga cabai tidak hanya melihat produksi di daerah tertentu, tetapi juga distribusinya.
"Kalau cabai ini kan tergantung dari produksi di tempat kita. Nah selain produksi itu yang perlu juga kita antisipasi itu adalah distribusinya," jelasnya.
Misalnya, jika produksi di suatu daerah terlalu tinggi, maka harga di sana akan murah. Namun, ketika barang tersebut didistribusikan ke daerah lain, hal itu dapat membuat harga naik.
"Nah itu juga akan kita pantau. Makanya kita akan banyak OPD yang terlibat dengan pangan, termasuk untuk dinas perhubungan nanti akan kita libatkan di situ," lanjutnya.
Untuk memastikan pengawasan menyeluruh, pemerintah daerah dan OPD terkait membuat laporan harian harga pangan. Seperti laporan dari Pasar Pabaeng-Pebaeng di Makassar menunjukkan sebagian harga komoditi sudah mulai turun.
"Setiap hari kan ada laporan mengenai harga. Kemarin dari tim kami sudah ada. Sudah ada yang turun," pungkasnya. (*).

Social Header